Istilah Laylatul Qadar (layl al-qadr) tidak asing bagi umat Islam, khususnya ketika bulan Ramadhan tiba, karena dianggap sebagai malam (waktu) yang sangat diberkati, yang menyebabkan semua do`a akan terkabul. Peristiwa penting ini diyakini terjadi dalam bulan Ramadhan setiap tahunnya. Karena itu banyak umat Islam, malah mungkin semua umat Islam yang tahu kegunaan dan kelebihan malam yang penuh berkat ini, untuk mencari dan menemukannya guna berdo`a secara khusyu’ dan tulus untuk mengisinya. Tulisan ini ingin menjelaskan apa itu laylatul qadar, apa dalil keberadaannya, apa kelebihannya, dan kapan waktu terjadinya.
Sebagai bulan yang diutamakan dari bulan lainnya, Ramadhan paling kurang mempunyai tiga kelebihan. Pertama, shalat malam yang di bulan lain dilaksanakan secara diam-diam, pada Ramadhan dilaksanakan secara berjamaah di masjid-masjid dan dijadikan sebagai salah satu syi`ar utama. Seolah-olah shalat tarawih pada Ramadhan adalah penyegaran dan pelatihan ulang agar semua umat Islam tetap berkomitmen melaksanakan shalat malam selama sebelas bulan berikutnya, sampai tiba Ramadhan tahun depan. Kedua, ibadat puasa yang cenderung hanya untuk kemanfaatan individual, harus diakhiri dengan zakat fitrah (bagi yang mampu) yang merupakan ibadat sosial, sehingga keterhubungan antara ibadah individual dengan ibadah sosial tetap selalu terhubung. Bahwa apapun ibadah yang kita lakukan (termasuk ke dalamnya puasa Ramadhan) harus membawa manfaat di samping untuk orang yang melakukannya, juga untuk masyarakat yang ada di sekitarnya. Ketiga, adalah keberadaan laylatul qadar yang di bawah akan diulas lebih lanjut.
Istilah laylatul qadar ditemukan di dalam Al-qur’an surat ke 97 (surat al-qadr, yang bermakna surat kemuliaan) yang terdiri atas lima ayat. Secara bebas ayat-ayat tersebut bermakna: sesungguhnya Kami telah (mulai) menurunkan (Al-qur’an) pada malam kemuliaan (al-qadr); apakah kamu tahu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan adalah (malam yang) lebih baik dari seribu bulan; pada malam itu turun malaikat-malaikat dan (malaikat) Jibril dengan izin Tuhannya untuk menjalankan segala titah; malam itu (penuh dengan) kesejahteraan sampai terbit fajar. Seperti jelas tertera dalam ayat-ayat di atas, malam ini mempunyai beberapa kelebihan, pertama merupakan waktu yang dipilih Allah untuk mulai menurunkan Al-qur’an; kedua para malaikat, termasuk Jibril atas izin dan perintah Allah, pada malam itu turun (ke bumi) untuk melaksanakan berbagai urusan, perintah ataupun titah yang diberikan Allah kepada mereka; ketiga malam ini penuh dengan keberkatan dan kesejahteraan sampai fajar tiba; keempat malam ini lebih baik dari seribu bulan, karena itu sangat baik untuk beribadat.
Bagaimana penjabaran lebih kongkrit dari empat keutamaan di atas? Ketika penulis masih kecil sering diberitahu bahwa laylatul qadar merupakan malam yang amat sangat mulia dan penuh keajaiban. Pada malam itu semua makhluk sujud kepada Allah secara harfiah, sehingga pohon kayu pun akan sujud, semuanya rebah ke bumi, condong ke arah Kiblat. Air akan berhenti mengalir, bahkan membeku sebagai tanda bersujud; hewan-hewan pun pada malam itu tidak ada yang berkeliaran, tidak ada yang beruara, seperti melolong, melenguh, menggukguk, berkokok, dan tidakada juga yang akan menangkap mangsa (membunuh hewan lain) dan sebagainya, karena semuanya bersujud kepada Allah. Jadi kelebihan tersebut cenderung bersifat fisik dan karena itu bisa diamati dengan panca indera. Begitu mulianya malam ini sehingga semua doa akan dikabulkan Allah secara langsung, termasuk semua permintaan yang bersifat fisik ataupun kasat mata. Sebagai anak-anak banyak diantara kami yang berangan-angan sekiranya bertemu laylatul qadar akan meminta barang yang kami cintai, seperti sepeda, baju baru ataupun buku cerita yng belum kami miliki. Karena itu sebagi anak-anak kami sering bertukar informasi bagaimana caranya menemukan laylatul qadar, siapa yang sudah berhasil menemukannya, bagaimana caranya dan apa do`a yang dia panjatkan (apa barang yang telah dia dapat). Dengan kata lain laylatul qadar adalah malam yang sangat agung yang kelebihannya cenderung dianggap bersifat fisik.
Kembali kepada penjelasan Rasulullah, kapan waktu laylatul qadar terjadi? Untuk mengetahuinya, menurut hadis-hadis Nabi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Kemungkinan besar laylatulqadar terjadi pada salah satu malam di bulan Ramadhan, yang kemudian dipertajam lagi, lebih sering terjadi pada malam-malam ganjil. Setelah ini ada lagi hadis yang lebih mempersempitnya, lebih sering terjadi pada sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadhan. Karena itu Rasulullah sangat menggalakkan para keluarga dan Sahabatnya untuk selalu berada di masjid pada sepuluh hari yang terakhir itu (beri’tikaf), untuk membaca Al-qur’an, berzikir, berdo`a, serta melakukan shalat danibadat sunat lainnya, sepanjang siang dan malam. Beliau sendiri (Rasulullah) pada sepuluh hari terakhir ini, sekiranya berada di Madinah, selalu berada di Masjid, dan hanya keluar untuk sesuatu yang sangat perlu, seperti mandi, berwudhu’, makan dan sebagainya yang merupakan kebutuhan rutin dan primer seseorang. Isteri-isteri beliau pun beliau dorong agar pada sepuluh hari yang terakhir ini sepenuhnya melakukan i`tikaf, beribadat di masjid secara penuh dan sungguh-sungguh. Hadis tentang hal ini relatif banyak dan mudah menemukannya. Beberapa hadis juga memberikan tanda-tanda apabila laylatul qadar sudah terjadi. Karena menceritakan tanda sesudah laylatul qadar itu terjadi, penulis rasa tidak perlu dikutip di ruangan yang pendek ini.
Dengan pertambahan umur, bahan bacaan, serta perenungan, maka pemahaman penulis tentang makna laylatulqadar yang di masa kecil dahulu cenderung bersifat fisik, menjadi berubah dan berkembang juga. Sesuai dengan yang tertera pada ayat-ayat di atas, dan hadis-hadis lainnya, maka kelebihan laylatulqadar tidak layak dan tidak tepat untuk dipahami sebagai bersifat fisik, tetapi harus bersifat spiritual. Laylatulqadar harus dipahami sebagai malam yang lebih mulia dari seribu bulan, dalam arti ibadat yang dilakukan pada malam itu adalah lebih baik dari ibadat yang dilakukan secara berturut-turut selama seribu bulan. Lebih kongkrit lagi, pahala atau manfaat atau kelegaan sebagai hasil dari beribadat pada malam laylatul qadar akan lebih baik, lebih membekas, lebih bepengaruh dari ibadat yang dilakukan selama seribu bulan secara terus menerus. Karena itu beribadat pada malam laylatulqadar amatlah sangat dianjurkan.
Kalau demikian keadaannya, bagaimana cara yang lebih bermakna dan lebih mendalam yang dapat kita persiapkan untuk menghormati dan menyambut layltulqadar tersebut. Barangkali dengan beribadah dan beramal secara sungguh-sungguh sejak awal Ramadhan pada setiap malamnya, maka insya allah salah satu dari malam tersebut adalah laylatul qadar. Jadi untuk memperoleh manfaat dan kelebihan yang ada pada laylatul qadar tidak musti dengan menunggu dan mencari malam tersebut secara pasti, dan baru setelah itu berdo`a atau melakukan berbagai ibadat yang kita rasa perlu. Penulis rasa terlalu sukar untuk menemukan dan memastikan kapan laylatul qadar terjadi karena tanda-tanda yang ada di dalam hadis semuanya untuk menyatakan bahwa laylatul qadar sudah terjadi. Dengan beribadat secara sungguh-sungguh sejak awal Ramadhan sampai ke akhirnya, terutama pada malam hari, tanpa perlu mencari, menunggu ataupun mengetahui terjadinya laylatul qadar secara pasti, insya Allah kita akan menemukan laylatul qadar dengan segala kelebihan dan barakatnya. Logikanya sederhana saja, karena laylatul qadar terjadi pada malam hari bulan Ramadhan, dan kita beribadat setiap malam maka tentu salah satnya akan bertemu atau bersesuaian dengan laylatul qadar. Menurut penulis pemahaman inilah yang lebih sesuai dengan ajaran dan tuntunan Nabi, karena beliau menyuruh umat untuk beribadat secara sungguh-sungguh terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Beliau menyuruh umat untuk beribadat dan tidak menyuruh umat untuk menunggu atau mencari kapan laylatul qadar terjadi secara pasti dan spesifik.
Mudah-mudahan sisa Ramadhan yang masih ada dapat kita manfaatkan secaa maksimal, untuk beibadat termasuk berdo’a, mudah-mudahan salah satu (sebagian) ibadat kita tersebut bersesuaian dengan laylatul qadar sehingga akan memperoleh barakah dan pahala melimpah seperti dijanjikan Allah dalam ayat di atas.
Wallahu a`lam bish-shawab wa ilayhil marji` wal ma`ab.
Ulee Kareng Banda Aceh, 20 Agustus 2011.
Tinggalkan Balasan