Sebelum ini sudah disebutkan bahwa nilai (kualitas) paling dasar untuk seorang muslim adalah rukun iman dan rukun Islam, yang sekiranya kita padatkan maka intinya adalah (1) meyakini secara sungguh-sungguh bahwa Allah itu esa dan Muhammad adalah Rasulullah; setelah itu (2) berupaya secara sungguh-sungguh untuk mematuhi dan menjalankan hidayah Allah yang tertera dalam Al-qur’an dan hadis dalam kehidupan dan cita-cita hidup, sehingga (3) hidup menjadi berbahagia di dunia dan berbahagia di akhirat. Menurut penulis tiga nilai di ataslah yang menjadi nilai dasar yang daripadanya diturunkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip serta aturan perilaku dalam kehidupan nyata yang lebih kongkrit.
Umat Isam wajib mengimani kebenaran isi Al-qur’an, seraya berusaha untuk memahami dan menafsirkannya sehingga menjadi praktis, dapat diterapkan dalam kehidupan nyata yang akan memandu manusia untuk memperoleh kebahagiaan dalam hidup di dunia dan hidup di akhirat kelak, baik sebagai individu dan juga sebagai kelompok, masyarakat, bangsa dan negara. Lebih dari itu kaum muslimin wajib berusaha untuk mengikuti dan mengamalkannya secara sempurna dan dengna sepenuh hati sehingga harapan menjadi orang atau bangsa yang berbahagia di atas dapat tercapai. Al-qur’an tidka hanya berisi pedoman untuk berperilaku, baik sebagai individu atau sebagai anggota masyarakat bahkan antar masyarakat. Isi Al-qur’an jauh lebih luas dari dari itu.
Al-qur’an bercerita tentang berbagai fenomena alam yang semakin lama semakin membuktikan bahwa Al-qur’an adalah wahyu Allah yang kebenarannya secara ilmiah dari hari ke hari semakin teruji, sehingga tidak patut diragukan. Selanjutnya Al-qur’an membawa kabar tentang sejarah kemanusiaan, tentang pertarungan yang baik dengan yang buruk, yang patuh kepada Allah dengan yang ingkar, serta kekalahan orang-orang yang ingkar. Al-qur’an berisi cerita tentang pengiriman rasul-rasul dan upaya Allah untuk mengingatkan manusia agar tidka mengikuti hawa nafsu dan tidak tergoda oleh iblis dan syaitan. Selanjutnya isi Al-quran yang tidak kalah pentingnya adalah informasi tentang alam gaib yang tidka mungkin diakses manusia dengan akal dan inderanya. Al-qur’an bercerita tentang hari kiamat, tentang surga dan neraka, serta tentang malaikat, jin dan iblis. Pengetahuan tentang alam gaib, tidak dapat diuji oleh akal manusia yang terbatas, dan karena itu kita akan menerimanya berdasarkan iman. Begitu juga orang yang menolaknya, mereka tidka melakukannya atas alasan “ilmiah” tetapi lebih banyak atas alasan keimanan “mau percaya atau tidak”. Uraian dan penjelasan manusia yang tidka berdasar kepada isi Al-qur’an mengenai masalah ini harus kita anggap sebagai hasil karya yang tidka berdasar, tidak dapat dipertanggung jawabkan (tidak dapat diverifikasi) dan karena itu tidak akan menjadi bagian dari keimanan kita.
Tinggalkan Balasan