NILAI DASAR ISLAMI: MENGESAKAN ALLAH SWT

Ditulis oleh

di

Sebelum ini sudah disebutkan bahwa nilai paling dasar untuk seorang muslim adalah rukun iman dan rukun Islam, yang sekiranya kita padatkan maka intinya adalah (1) meyakini secara sungguh-sungguh bahwa Allah itu esa dan Muhammad adalah Rasulullah; setelah itu (2) berupaya secara  sungguh-sungguh untuk mematuhi dan menjalankan hidayah Allah yang tertera dalam Al-qur’an dan hadis dalam kehidupan dan cita-cita hidup, sehingga (3) hidup menjadi berbahagia di dunia dan berbahagia di akhirat.  Menurut penulis tiga nilai di ataslah yang menjadi nilai dasar yang daripadanya diturunkan nilai-nilai lain dan prinsip-prinsip serta aturan perilaku dalam kehidupan nyata yang lebih kongkrit.  

Penentangan utama orang-orang Mekkah kepada Nabi Muhammad ketika diutus menjadi Rasul adalah karena beliau mengajarkan bahwa Allah itu Esa, tidka boleh disandingkan atau disekutukan dengna apapun juga. Kegiatan utama Nabi selama tiga belas tahun berdakwah di Mekkah hanyalah menanamkan kayakinan bahwa Allah itu tunggal, tidka mempunyai sekutu dalam bentuk apapun. Pada dasarnya orang Arab Mekkah percaya dan yakin bahwa zat yang paling tinggi dan paling berkuasa adalah Allah SWT. Tetapi Allah terlalu jauh, tinggi dan abstrak, sehingga untuk menyembah-Nya, beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya manusia memerlukan perantara. Mereka menganggap berhala dan sesembahan lain yang mereka pilih hanyalah perantara, bukan sandingan apalagi sekutu yang setingkat dengan Allah SWT. 

Orang Qureisy dalam menghadapi dakwah Nabi di  Mekkah, sering mengajukan semacam jalan keluar atau kompromi, bersedia menerima Islam kalau Nabi mau menghargai berhala-berhala mereka sebagai perantara dalam beribadah dan berdoa kepada Allah. Seolah-olah mereka ingin berkata, wahai Muhammad, berikan pengakuan bahwa Allah sampai batas tertentu memberi mandat kepada berhala-berhala ini, paling kurang dalam keadaan tertentu untuk mengabulkan permintaan dan menentukan nasib manusia. Orang-orang Qureisy yakin bahwa kekuasaan semua sesembahan mereka itu berada di bawah Allah SWT. dan tidka menyamai apalagi menandingi kekuasaan Allah SWT. Mungkin untuk orang Qureisy—dan untuk banyak manusia lain sampai saat sekarang ini, Allah terlalu abstrak dan terlalu sukar untuk dapat disembah secara langsung, sehingga perlu kepada perantara.  

Al-qur’an menolak permintaan orang Qureisy tersebut. Dalam Islam meyakini Allah itu esa merupakan inti yang paling inti dari ajaran Islam.  Keyakinan bahwa Allah SWT itu esa tidka dapat ditawar-tawar. Keyakinan tersebut tidak hanya pada zat-Nya tetapi juga pada kekuasaan dan perbuatan-Nya.  Jibril dalam sebuah hadis meminta agar umat Islam dalam beribadah dan mengabdi kepada Allah berusah untuk dapat merasa berada di depan Allah, atau paling kurang merasakan kehadiran Allah (ihsan). Dengan kata lain Jibril ingin mengkongkritkan nilai ini dengan mengajari kita agar dalam beribadah dan berdoa jangan berusaha menghadirkan makhluk lain di depan kita, karena kegiatan itu berpotensi membawa kita kepada syirik atau bahkan mungkin telah merupakan bagian dari perbuatan syirik itu sendiri.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *