MODEL PEMIKIRAN UMAT ISLAM: SALAFIAH

Ditulis oleh

di

Ada beberapa  cara untuk memetakan (mengelompokkan) model atau corak berpikir umat Islam, seperti salafiah, mazhabiah, ishlahiah, dan tajdidiah; ada juga model lainnya, seperti tradisionalis, revivalis, reformis, dan modernis. `Abid al-Jabiri memetakannya menjadi bayani, burhani dan `irfani. Mulyadi Karthanegara menambahkan satu lagi, tajribi. Selain ini masih ada model-model lain, yang mungkin tidak perlu disebutkan. Penulis sendiri mengelompokkan pemikiran umat Islam—lebih khusus lagi di bidang fiqih, menjadi tiga model atau corak: salafiah, mazhabiah dan tajdidiah. Ishlahiah penulis anggap tidak berdiri sendiri, karena sebagiannya dapat dimasukkan ke dalam salafiah dan sebagiannya lagi dapat dimasukkan ke dalam mazhabiah. Inilah yang akan penulis uraikan di bawah. Salafiah adalah model pemikiran yang mengikuti dan merujuk kepada cara berpikir yang dilakukan oleh para Sahabat Rasulullah (sesudah beliau wafat), yang kemudian diikuti lagi oleh tabi`in. Sahabat adalah orang yang setelah mereka masuk Islam sempat bertemu dengan Rasulullah; jadi dapat disebut sebagai generasi pertama umat Islam. Tabi`in adalah orang-orang yang setelah mereka masuk Islam sempat bertemu dengan Sahabat; jadi mereka dapat disebut sebagai generasi umat Islam yang kedua.

Secara harfiah salaf berarti para pendahulu, generasi yang awal, yaitu generasi yang dipertentangkan dengan generasi yang datang belakangan (khalaf). Istilah ini pada awalnya digunakan untuk membedakan para generasi awal dengan generasi belakangan (khalaf). Generasi awal (salaf) adalah mereka yang berpikir bebas, yang dianggap sangat setia dan tulus (as-salaf as-shalih), yaitu generasi Sahabat (pertama), tabi`in (kedua), dan sebagian tabi` tabi`in (generasi ketiga). Sedangkan generasi belakangan (khalaf) adalah mereka yang tidak berpikir bebas lagi, yaitu generasi sesudah imam mazhab, yang sudah mengikatkan diri kepada imam mazhab masing-masing. Dengan demikian istilah salaf pada awalnya dipertentangkan dengan khalaf dan bukan dengan mazhab. Tetapi dengan perjalanan waktu, istilah khalaf tidak sering lagi digunakan, dan salaf (salafi, salafiah) digunakan untuk membedakan mereka yang menjadi pengikut cara berpikir para Sahabat dengan mereka yang menjadi pengikut imam mazhab. Atas dasar ini menggunakan istilah salaf atau salafiah untuk menunjuk mereka yang berafiliasi kepada salah satu mazhab tidaklah tepat.

Mazhabiah adalah model pemikiran yang mengikuti dan merujuk kepada cara berpikir yang dilakukan oleh para ulama mazhab, yang muncul mulai paroh akhir abad pertama hijriah, sejak generasi ketiga sesudah Nabi Muhammad (yang paling tua mazhab Ibadhiah) dan terus berlanjut sampai awal abad keempat hijriah (mazhab Thabari atau Jariri, yang sekarang ini sudah tidak mempunyai pengikut lagi). Pada masa belakangan hasil pemikiran mereka dianggap sebagai mazhabiah, sehingga orang bermazhab mempunyai dua makna: mengikuti hasil pemikiran yang dihasilkan oleh ulama mazhab, atau mengikuti metode dan cara berpikir yang ada di dalam mazhab.Tajdidiah adalah model pemikiran yang mengikuti dan merujuk kepada cara berpikir yang dilakukan oleh para ulama kontemporer (dan hasil pemikiran mereka), yang berusaha keluar dari kedua model di atas. Jadi mereka berusaha melahirkan metode yang baru, yang kuat dugaan akan menghasilkan pemikiran yang relatif baru, paling kurang dalam beberapa aspeknya. Karena merupakan sesuatu yang baru, maka metode serta hasil pemikiran yang mereka hasilkan, sampai batas tertentu akan berbeda dengan apa yang dihasilkan oleh kelompok salafiah dan mazhabiah. Karena keterbatasan ruang, tulisan di bawah penulis fokuskan untuk menguraikan model salafiah, sedang dua yang lainnya akan diuraikan dalam tulisan yang akan datang.

Ciri utama pemikiran salafiah adalah sifat atau coraknya yang merupakan pemahaman atas Al-qur’an dan sunnah berdasarkan internalisasi atas nilai-nilai, sebagaimana mereka dapatkan dari hidup bersama Rasulullah, dalam masyarakat Arab abad ke tujuh masehi. Sahabat adalah generasi yang unik dalam sejarah Islam; karena merekalah satu-satunya generasi–sepanjang sejarah, yang hidup bersama Rasulullah. Karena itu mereka dapat memahami Islam secara internalisasi dan sosialisasi, langsung dari hidup bergaul dengan Rasulullah, yang tidak mungkin dilakukan oleh generasi manapun sesudah mereka. Ciri yang kedua, sebagai akibat dari ciri yang pertama, cenderung sederhana dan lapang, dalam arti mereka berupaya menyelesaikan masalah secara langsung menurut apa adanya; tidak memerlukan sistem (sistematika) ataupun kajian logika yang relatif rumit. Mereka merasa cukup dengan pertimbangan subjektif yang dipandu oleh nilai dan semangat Islami serta ketaatan kepada Rasulullah, yang sebelumnya sudah terbentuk melalui internalisasi dan sosialisasi. Ciri yang ketiga sebagai akibat dari yang kedua, cenderung parsial dan ad hoc (juz’iyyah) sehingga ada yang menjadi tumpang tindih, bahkan bertolak belakang. Tetapi hal ini tidak menimbulkan kesulitan berarti di masa mereka, karena mereka cenderung melihat atau menyelesaikannya kasus perkasus, dan tidak berusaha mengolah atau mengembangkannya sehingga menjadi sebuah sistem yang padu. Mereka tidak ragu-ragu mengubah atau mengembangkan pendapatnya sekiranya ada alasan atau logika yang menyatakan bahwa mengubah pendapat lama atau membuat pendapat baru akan lebih baik dan maslahat.

Sekiranya kita kritisi, maka pemikiran (manhaj) salafiah mempunyai kelebihan dan kekurangan diantaranya sebagai berikut. Kelebihannya, mengikuti pendapat Sahabat akan memberikan kepuasan batin yang relatif tinggi karena ada hadis yang memuji  dan mengunggulkan pemahaman para Sahabat, yang maknanya lebih kurang: Sahabatku seperti bintang, yang mana saja kamu ikuti maka kamu akan mendapat petunjuk. Kelebihan lainnya, pola pemahaman Sahabat cenderung sederhana, sehingga Islam terkesan mudah, dan sederhana, tidak akan memikirkan atau menonjolkan yang rumit-rumit. Para pengikut model ini pada umumnya  merasa puas dengan pendekatan personal (mikro), kalau semua orang sudah baik maka masyarakat bahkan negara dengan sendirinya akan  menjadi baik, tidak perlu memikirkan sistem ataupun model (makro).

Sedang kekurangannya, karena Sahabat melakukan penafsiran berdasar internalisasi dan sosialisasi, maka model mereka ini pada hakikatnya tidak dapat diikuti oleh generasi lainnya. Pola sederhana, lapang dan subjektif yang mereka gunakan (yang berdasar internalisasi dan sosialilasi) yang cenderung parsial dan ad hoc, di tangan para pengikutnya—generasi sesudah tabi` tabi`in, berubah menjadi tafsir yang relatif semena-mena, bahkan liar; ada yang menjadi sangat longgar atau sebaliknya menjadi sangat kaku dan sempit, sehingga ada yang menganggapnya sudah keluar dari ruh syari`at. Para pengikut kelompok ini sesudah masa Sahabat kadang-kadang memahami nash secara literal, dan kadang-kadang menakwilkannya secara subjektif, sesuai dengan jalan pikiran dan budaya serta adat mereka, sehingga disadari atau tidak, seperti sudah disebutkan di atas, ada pemikiran mereka ini yang dirasakan sudah keluar dari nilai dan semangat Al-qur’an.

Hal penting lain yang harus diperhatikan, Sahabat adalah generasi yang di-Islamkan oleh Rasulullah, yang sebelumnya hidup dalam adat Arab jahiliah. Sekiranya hasil ijtihad para Sahabat dicermati dengan baik, akan terlihat bahwa  sebagian pendapat tersebut masih bersemangat jahiliah (keluar dari semangat Al-qur’an). Ketika Rasulullah hidup pendapat yang berisi semangat atau bahkan kecenderungan kembali ke adat jahiliah ini akan langsung beliau perbaiki. Tetapi setelah Rasulullah wafat, pendapat yang disusupi semangat jahiliah ini tidak dapat lagi dikonfirmasikan kepada beliau, dan karena itu tetap direkam sebagai pendapat Sahabat. Berhubung Sahabat telah diakui sebagai generasi yang unik, yang paling memahami ajaran Rasulullah maka pemikiran mereka yang sebetulnya membawa bias adat jahiliah tidak terlihat lagi dan cenderung diterima sebagai tafsir otentik atas Al-qur’an dan hadis. Pendapat-pendapat yang mengandung bias ini pada umumnya diterima dan berkembang menjadi pendapat mayoritas umat Islam, dan tetap diterima sampai ke masa kita sekarang.

Semoga ada manfaatnya. Kepada Allah kita mohon hidayah, kepada Nya kita berlindung dan kepada Nya pula kita persembahkan bakti. Wallahu a`lam bish-shawab. Amin.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *